Please remove your shoes, and NYAAA!!! come in ...
Why photo Blog ? Because no one reads blog without pictures
Follow This Blog | Close This

Sunday, 22 January 2012

Candi Sewu - Yogyakarta


Lanjut dari perjalanan dalam rangka mengunjungi candi se-DIY, candi yang ke dua dikunjungi pagi ini adalah Candi Sewu, "Sewu" dalam bahasa jawa diartikan seribu, jadi candinya ada seribu, bener nggak tuh..... coba cek saja kesini ya.... Tetapi candi perwara aja cuma ada 240, candi apit ada 8 dan candi induk cuma 1. Artinya jaman dulu orang disini dibohongi.. mungkin hitungnya dari 1,2,3,4,5......240 skip langsung seribu........, dan tentunya orang jawa kuno tersebut percaya aja... ha ha.... (*mitos versi saya)


Kesan pertama sewaktu memasuki area candi.... aku berasa di dunia lain.... :D yang keindahannya nggak kalah sama objek benda purbakala di negara lain... :D, semua terasa luas dan sangat megah... Rumputnya hijau dan bikin bangga lihat kehebatan orang jawa kuno. Untuk menuju kesini gampang, jika dari candi prambanan, keluar saja kearah utara beberapa ratus meter susuri saja jalan aspalnya, kemudian akan nampak dari pinggir jalan candi Sewu ini.


Sebenernya malas untuk kesini, karena da penjaga yang sering nongkrong didalam area taman candi yang pake baju hitam, selalu jaga-jaga takut pengunjung yang masuk dari pintu masuk candi sewu, berjalan ke candi lembung, candi bubrah dan terus kecandi prambanan... Sempat di cegat sama mereka... ck..... ck.... ck.... pelit, cuma jalan 300 meter doank..... jiah.......


Candi Sewu ini sih candi utamanya masih bagus, tetapi candi-candi disekitarnya banyak yang rusak, apalagi rusak saat gempa jogja tahun 2006 yang lalu...



Candi ini punya mitos yang terkenal, yaitu Roro Jonggrang. Ada yang bilang kalo cerita Roro Jonggrang tersebut adalah mitos terciptanya Candi Prambanan, tetapi kalo dilihat dari ceritanya yaitu Roro Jonggrang meminta dibuatkan 1000 candi akan mengacu pada Candi Sewu ini.




Menurut review yang didapat dari wikipedia sih bilang gini :

Berdasarkan prasasti yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli bangunan ini adalah “Manjus’ri grha” (Rumah Manjusri). Manjusri adalah salah satu Boddhisatwa dalam ajaran buddha. Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746 – 784) adalah raja yang termahsyur dari kerajaan Mataram Kuno. Kompleks candi ini mungkin dipugar, diperluas, dan rampung pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya yang menikahi Pramodhawardhani dari dinasti Sailendra. Setelah dinasti Sanjaya berkuasa rakyatnya tetap menganut agama sebelumnya. Adanya candi Sewu yang bercorak buddha berdampingan dengan candi Prambanan yang bercorak hindu menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu di Jawa umat Hindu dan Buddha hidup secara harmonis dan adanya toleransi beragama. Karena keagungan dan luasnya kompleks candi ini, candi Sewu diduga merupakan Candi Buddha Kerajaan, sekaligus pusat kegiatan agama buddha yang penting di masa lalu. Candi ini terletak di lembah Prambanan yang membentang dari lereng selatan gunung Merapi di utara hingga pegunungan Sewu di selatan, di sekitar perbatasan Yogyakarta dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di lembah ini tersebar candi-candi dan situs purbakala yang berjarak hanya beberapa ratus meter satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan kawasan penting artinya dalam sektor keagamaan, politik, dan kehidupan urban masyarakat Jawa kuno.

Candi ini rusak parah akibat gempa pada bulan Mei 2006 di Yogyakarta. Kerusakan struktur bangunan sangat nyata dan candi utama menderita kerusakan paling parah. Pecahan bebatuan berserakan di atas tanah, retakan dan rekahan antar sambungan batu terlihat. Untuk mencegah keruntuhan bangunan, kerangka besi dipasang di keempat sudut bangunan untuk menunjang dan menahan tubuh candi utama

Kompleks candi Sewu adalah kumpulan candi buddha terbesar di kawasan sekitar Prambanan, dengan bentang ukuran lahan 185 meter utara-selatan dan 165 meter timur-barat. Pintu masuk kompleks dapat ditemukan di keempat penjuru mata angin, tetapi mencermati susunan bangunannya, diketahui pintu utama terletak di sisi timur. Tiap pintu masuk dikawal oleh sepasang arca Dwarapala. Arca raksasa penjaga berukuran tinggi sekitar 2 meter ini dalam kondisi yang cukup baik, dan replikanya dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta.

Aslinya terdapat 249 bangunan candi di kompleks ini yang disusun membentuk mandala, perwujudan alam semesta dalam kosmologi Buddha Mahayana. Selain satu candi utama yang terbesar, pada bentangan poros tengah, utara-selatan dan timur-barat, pada jarak 200 meter satu sama lain, antara baris ke-2 dan ke-3 candi Perwara (pengawal) kecil terdapat 8 Candi Penjuru atau disebut juga Candi Perwara Utama, candi-candi ini ukurannya kedua terbesar setelah candi utama. Aslinya di setiap penjuru mata angin terdapat masing-masing sepasang candi penjuru yang saling berhadapan, tetapi kini hanya candi penjuru kembar timur dan satu candi penjuru utara yang masih utuh.

Candi perwara (pengawal) yang berukuran lebih kecil aslinya terdiri atas 240 buah dengan disain yang hampir serupa dan tersusun atas empat barisan yang konsentris. Dilihat dari bagian terdalam (tengah), baris pertama terdiri atas 28 candi, dan baris kedua terdiri atas 44 candi yang tersusun dengan interval jarak tertentu. Dua barisan terluar, baris ketiga terdiri dari 80 candi, sedangkan baris keempat yang terluar terdiri atas 88 candi-candi kecil yang disusun berdekatan. Beberapa candi perwara ini telah dipugar dan berdiri, sedangkan sebagian besar lainnya masih berupa batu-batu berserakan.

Dari keempat baris candi perwara ini, baris keempat (terluar) memiliki rancang bentuk yang serupa dengan baris pertama (terdalam), yaitu pada bagian penampang gawang pintunya, sedangkan baris kedua dan ketiga memiliki rancang bentuk yang lebih tinggi dengan gawang pintu yang berbeda. Banyak patung dan ornamen yang telah hilang dan susunannya telah berubah. Arca-arca buddha yang dulu mengisi candi-candi ini mengkin serupa dengan arca buddha di Borobudur



Ini bagian yang ditunggu-tunggu..... bukti otentik....... foto dulu ya.... :D



COST

Rp.5000 per orang, awalnya satpamnya bilang, seiklasnya, trus aku kasih 5000, eh bapaknya protes minta tambah 5000 lagi karena berdua sama temen.... ck ck ck.... itu ya pak yang namanya seiklasnya ckckkckckc...... candi yang lain itu dewasa 2000 doank....